Budaya Jepang yang Terkenal sampai Saat Ini!

Estimated read time 9 min read

Budaya Jepang yang Terkenal hingga Saat Ini!  Masyarakat Indonesia, apalagi kemungkinan di semua dunia memahami bahwa Jepang menyimpan berbagai budaya yang unik juga menarik. Akan tetapi, tak banyak orang memahami histori dan makna tersirat di balik budaya-budaya berasal dari negeri Sakura itu.

Berikut ulasan tentang histori dan makna tersirat di balik beberapa budaya Jepang yang kondang yang udah dijalani hingga puluhan tahun, apalagi ratusan th. oleh masyarakatnya yang terkenal kerap bermain di slot server kamboja.

Untuk lebih mengenal apa saja budaya Jepang yang kondang dan tentunya unik ini, tersebut penjelasan lengkapnya.

1. Geisha: Seniman-Penghibur Tradisional Jepang

Geisha adalah salah satu berasal dari sekian banyaknya budaya Jepang yang lumayan terkenal. Terkadang, bagi beberapa orang yang tetap awam pada Geisha, akan beranggap Geisha sebagai sosok “makhluk misterius” dan menjadi salah satu budaya, sekaligus profesi tradisional Jepang yang sering disalahartikan.

Dalam bahasa Jepang sendiri, Geisha artinya “orang seni” atau orang yang mempunyai keterampilan di dalam seni tradisional Jepang, seperti menari, menyanyi, musik, ataupun upacara minum teh. Dengan kata lain, Geisha adalah aktivis seni penghibur tradisional di negara Jepang.

Memang, awalannya pria lah yang memerankan Geisha ini, tapi beberapa pria yang menekuni budaya tradisional ini cenderung menurun, hingga kelanjutannya para wanita yang langsung menukar peran mereka.

Geisha udah tersedia sejak abad 18-an dan 19-an, serta tetap benar-benar kondang hingga saat ini. Sayangnya, di zaman sekarang, kebudayaan Jepang yang satu ini cenderung alami penurunan kendati tetap tersedia beberapa di pada orang Jepang yang selalu menjaga Geisha.

Adapun sebutan lain untuk Geisha, yakni Maiko dan Geiko. Istilah tersebut merasa tersedia dan diterapkan di zaman Restorasi Meiji. Istilah Maiko cuma diterapkan di area Kyoto, saat istilah Geiko cuman sebutan lain saja. Hal itu karena Maiko lah yang menjadi sebutan untuk Geisha pemula.

Lazimnya, budaya tradisional Jepang ini (geisha) memang udah diajarkan dan dilatih sejak usia muda. Tak cuma itu, rumah geisha juga biasanya akan mempunyai gadis berasal dari keluarga tidak dapat atau miskin untuk menetap dan berlatih di sana. Rumah-rumah Geisha itu disebut Okiya.

Awalnya, Geisha pemula atau Maiko bekerja sebagai spaceman slot cheat pembantu, lalu sebagai pembantu senior Geisha, pemilik rumah sebagai anggota berasal dari latihan mereka serta penolong ongkos pendidikan dan pemeliharaan mereka pula. Bahkan, hingga saat ini pun budaya pelatihan Geisha tetap dijumpai di Jepang.

Namun, Geisha moderen udah tak lagi diangkat dan dididik oleh rumah Geisha (Okiya). Hal itu karena Geisha udah berbentuk sukarela.

Sampai saat ini, Geisha tetap menjadi energi tarik yang lumayan besar berasal dari negara Jepang sendiri, apalagi berasal dari para wisatawan asing. Akan tetapi, bagi para wisatawan yang idamkan menyaksikan budaya Jepang yang satu ini, kudu memahami beberapa lokasi spesial, tepatnya di Kyoto, sehingga dapat mendapatkan seorang Geisha.

Cukup banyak orang mengagumi kebudayaan Jepang dan idamkan mempelajarinya. Namun karena budaya dan Bahasa Jepang keluar jauh berasal dari budaya kita, rasanya menjadi rumit dan sulit. Dengan pemberian buku ini, kerumitan itu akan terurai. Semua aspek dibahas bersama dengan pendekatan secara langsung oleh orang Indonesia yang dulu tinggal dan menimba ilmu di Jepang yang mana hingga kini berkerja serupa dan berinteraksi bersama dengan bangsa Jepang.

2. Matsuri: Festival

Matsuri adalah semacam festival budaya di Jepang yang diselenggarakannya saat summer  atau musim panas. Matsuri ini berhubungan bersama dengan festival berasal dari kuil, yakni kuil Buddha dan kuil Shinto. Sebenarnya, Matsuri sendiri adalah acara untuk berdoa dan bersembahyang. Hanya saja itu tak memfokuskan pada para wisatawan yang datang. Hal itu karena banyak pula pengunjung atau wisatawan yang datang sekadar untuk menyaksikan festival budaya Matsuri ini.

Matsuri sendiri berasal berasal dari kata matsuru yang artinya menyembah atau memuja. Matsuri artinya penyembahan atau pemujaan pada Kami. Dalam ajaran agama Shinto, terkandung empat unsur di dalam matsuri, yaitu harai atau penyucian, persembahan, norito atau pembacaan do’a, dan pesta makan.

Sementara sekiranya diamati berasal dari pengertian sekularisme, Matsuri artinya hari libur perayaan atau festival.

Matsuri ini berawal berasal dari pembacaan do’a yang ditunaikan pendeta Shinto, baik untuk individu maupun sekelompok orang yang ditunaikan di area yang tak tertampak oleh orang lain.

Adapun maksud dan tujuan diadakannya Matsuri ini adalah sebagai wujud doa atas keberhasilan panen, suksesnya bisnis, pulih berasal dari penyakit, dan sebagainya. Tak cuma itu, Matsuri sendiri juga diselenggarakan sebagai wujud perayaan kebiasaan yang terkait bersama dengan peralihan musim atau mendoakan arwah berasal dari para figur terkenal.

Matsuri sendiri diselenggarakan di berbagai area di Jepang. Meskipun lazimnya Matsuri ditunaikan di kuil, tersedia pula yang menyelenggarakan Matsuri di gereja dan atau dilaksanakannya bersama dengan tidak mengaitkan sisi keagamaan.

Waktu pelaksanaan dan makna upacara Matsuri juga bervariasi, bergantung berasal dari tujuan penyelenggaraan dan daerahnya.

Seiring berkembangnya zaman, penyelenggaraan Matsuri ini sering menyimpang berasal dari maksud dan tujuan yang sesungguhnya. Namun, di balik itu semua, sisi tradisional berasal dari budaya Jepang yang satu ini selalu konsisten dilestarikan hingga saat ini.

3. Sadou: Upacara Minum Teh

Upacara minum teh atau Sadou ini terkandung dua jenis, yakni Ochakai dan Chaji. Ochakai adalah upacara minum teh yang terbilang tidak benar-benar resmi karena kebanyakan orang Jepang akan menyebabkan kawan dan kerabatnya untuk melakukan kegiatan ochakai sebagai wujud perayaan keberhasilan atau semacamnya. Kemudian, Chaji juga merupakan upacara minum teh yang sifatnya resmi dan benar-benar sakral, apalagi pelaksanaannya dapat berjalan lebih berasal dari 4 jam.

Awalnya, upacara minum teh bermula berasal dari agama Buddha (Zen) yang dibawa orang Tiongkok di abad ke-6. Kemudian, upacara ini sering ditunaikan oleh orang Jepang hingga abad ke-12 yang mana pada abad itu ditemukan varian teh baru Matcha, yaitu teh berasal dari serbuk teh hijau.

Sampai kelanjutannya pada abad ke-16, upacara minum teh konsisten menyebar ke semua masyarakat Jepang dan menjadi suatu budaya yang tersedia di Jepang hingga saat ini. Bahkan bersama dengan rasa bangganya, orang-orang Jepang selalu coba melestarikan budaya yang satu ini hingga ke ranah Internasional.

Sadou atau upacara minum teh ini mempunyai tata cara di dalam pelaksanaannya. Tuan rumah kudu melakukan persiapan, seperti menata ruangan, mendekor, mempersiapkan peralatan Sadou-nya, dan semacamnya. Selain itu, para tamu juga mempunyai tata caranya sendiri sebelum akan diperkenankan memasuki ruangan yang udah di sajikan oleh tuan rumah. Kemudian, tersedia pula keputusan duduk dan tata cara menerima dan menyerahkan mangkuk tehnya.

Di balik itu semua, Sadou atau upacara minum teh yang udah menjadi kebudayaan Jepang ini mempunyai banyak makna kehidupan, misalnya, sikap saling menjunjung dan menjunjung pada tuan rumah dan tamu. Dengan begitu, budaya Jepang yang satu ini secara tak langsung perlihatkan sifat berasal dari si tuan rumah yang bertujuan sehingga terwujudnya ketenteraman satu serupa lain.

4. Kimono: Pakaian Tradisional Jepang

Budaya Jepang yang kondang selanjutnya, yakni Kimono. Tentunya kalian tidak asing lagi mendengar istilah ini. Kimono adalah salah satu baju tradisional berasal dari negara Jepang yang udah kondang hingga ke kancah Internasional. Kimono yang terdiri dari ‘ki’ artinya mengfungsikan dan ‘mono’ berarti barang atau benda.

Mulanya, Kimono adalah baju yang dipakai berasal dari kalangan bangsawan saja, yakni kira-kira th. 794-1185 atau di dalam sejarang Jepangnya diketahui sebagai periode Heian.

Kemudian, bersamaan berkembangnya zaman, baju Kimono ini makin lama familiar dan popular di kalangan masyarakat, apalagi sering pula dipakai oleh aktor kabuki saat melakukan pentas dan Geisha.

Akan tetapi, di th. 1683, terjadilah pelanggaran di dalam mengenakan baju Kimono, terlebih yang mahal dan mencolok. Hingga akhirnya, Kimono lagi keluar pada abad ke-19 saat Jepang udah merasa mengembangkan diri akan dunia modern.

Pakaian Kimono sendiri pun berbeda-beda, bergantung berasal dari perayaan yang diselenggarakan atau dilaksanakan. Seperti halnya, Kimono yang dikenakan oleh wanita lajang akan tidak sama bersama dengan Kimono yang dipakai oleh wanita yang udah menikah. Berikut akan dijelaskan sedikit tentang jenis-jenis Kimono berdasarkan perayaannya.

  • Mofuku merupakan Kimono bersama dengan warna serba hitam yang digunakan oleh wanita dan pria saat upacara berkabung atau berduka cita.
  • Tomesode adalah wujud Kimono yang benar-benar formal. Kimono Tomesode memiliki motif berwarna emas dan perak, digunakan oleh wanita Jepang yang udah menikah. Umumnya, Kimono Tomesode dipakai untuk menghadiri acara pernikahan.
  • Iromuji adalah Kimono yang tak mempunyai pola dan terdiri berasal dari satu warna saja. Kimono Iromuji dapat dikenakan oleh semua wanita, baik yang lajang maupun udah menikah.
  • Susohiki atau Hikizuri adalah kimono tertentu yang dikenakan oleh Geisha atau para penari Jepang. Adapun perbedaan Kimono ini sekiranya dibandingkan bersama dengan Kimono biasanya, yakni terletak pada bentuknya. Bentuk Kimono Susohiki atau Hikizuri cenderung lebih panjang hingga menyapu lantai.
  • Furisode merupakan Kimono resmi untuk wanita yang belum menikah alias tetap lajang. Lazimnya dikenakan di dalam acara khusus, juga upacara kedewasaan, upacara minum teh (Sadou), dan atau menghadiri acara pernikahan.
  • Komon adalah Kimono yang dibuat berasal dari sutra serta mempunyai motif yang hampir menutupi semua Kimononya. Umumnya, Kimono Komon dipakai saat acara informal atau casual.

5. Tako: Layang-Layang Jepang

Budaya Jepang selanjutnya ialah Tako. Tako memiliki arti, yakni layang-layang, sementara takoage artinya layang-layang terbang. Di negara Jepang, menerbangkan layang-layang menjadi salah satu kegiatan atau kegiatan favorit keluarga Jepang yang ditunaikan tiap th. baru.

Meskipun kegiatan Tako ini tidak benar-benar familiar di semua dunia, akan tapi hal ini sangatlah kondang di negara Jepang. Selain di th. baru, layang-layang dapat dijumpai saat festival budaya.

Pada dasarnya, layang-layang di Jepang memang kebanyakan terbuat berasal dari kertas washi dengan kerangka bambu atau kayu cemara, dan tinta hitam atau sumi, serta mengfungsikan cat pewarna alami bersama dengan warna cerah. Adapun kerangka bambu atau kayu cemara itu disebut sebagai tulang, tetapi penutup kertas washi disebut sebagai kulit.

Masyarakat Jepang beranggap bahwa Tako bukanlah sekadar layang-layang, melainkan sebuah karya seni dan budaya bernilai tinggi yang mestinya dilestarikan.

Bahkan, pemerintah Jepang mengimbuhkan subsidi juga tunjangan pada para seniman layang-layang yang sesudah itu hasil karya seninya tersebut dipajang dan diabadikan di sebuah museum, yakni Museum Tako nomer Hakubutsukan, tepatnya di Tokyo.

Di museum tersebut udah terkandung tidak cukup lebih 3.500 koleksi layang-layang berasal dari Jepang dan mancanegara, baik berbentuk dua dimensi maupun tiga dimensi.

Tako biasanya diterbangkan saat Hamamatsu Matsuri, tahun baru, dan hari libur umum. Adapula di Honen Matsuri atau Festival Panen, Tako diterbangkan bersama dengan batang padi yang terikat sebagai wujud rasa menerima kasih atas panen yang baik.

Festival layang-layang terbesar di Jepang terkandung di Hamamatsu yang letaknya di Prefektur Shizuoka yang dirayakan berasal dari tanggal 3 hingga 5 Mei di tiap tahunnya. Pelaksanaan festival tersebut sebagai wujud perayaan bayi yang baru lahir di kota tersebut dan berdoa bagi kebugaran dan jaman depan sang bayi-bayi di Hamamatsu. Adapun kebiasaan ini dikenal bersama dengan sebutan Hatsudako.

Tak serupa bersama dengan festival lain, Festival Hamamatsu tak terkait bersama dengan kegiatan religi atau keagamaan karena lazimnya festival ini ditunaikan di pinggiran pantai. Festival layang-layang di Hamamatsu yang ditunaikan tiap tahunnya ini, dikenal bersama dengan sebutan Takoage-Gassen.

You May Also Like

More From Author