Pelajari Sejarah Indonesia Hanya Dengan Lewat Permainan Kartu Linimasa

Estimated read time 5 min read

Para penggemar board game atau permainan kartu tentunya tidak asing lagi dengan monopoli, ular tangga, dan catur. Dengan merogoh kocek lebih dalam, mereka juga bisa membeli permainan kartu yang diproduksi oleh negara-negara lain.

Sayangnya, permainan kartu yang diproduksi oleh warga Indonesia masih terhitung sedikit, lebih-lebih permainan yang juga bisa membantu belajar buah hati-buah hati di sekolah.

Berangkat dari alasan hal yang demikian serta pengalaman pribadi si kecilnya, dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya, Adhicipta R. Wirawan, mempelopori inspirasi untuk membikin board gameLinimasa, ialah permainan kartu dengan konsep pelajaran sejarah Indonesia.

Menurut Adhi, permainan bertema pelajaran sekolah masih jarang ada di Indonesia, “Kebanyakan yang saya tahu untuk pelajaran matematika yang eksakta dan ketika saya coba mencari, yang pelajaran ilmu sosial masih kurang.”

Dosen sekalian CEO dan penggerak Mechanimotion -perusahaan permainan kartun yang berbasis di Surabaya- hal yang demikian mengatakan konsep pembuatan Linimasa dimulai sekitar tahun 2015. Dikala itu, buah hati Adhi yang berusia 10 tahun mengalami kesulitan dalam pelajaran sejarah sehingga dia terdorong untuk membikin sarana yang bisa membantu si kecilnya.

Awalnya, Adhi hanya membikin Linimasa untuk si kecilnya dan belum berencana menjual Linimasa untuk masyarakat lazim karena pada tahun hal yang demikian dia juga disibukkan dengan penggarapan board gameWaroong Wars.

Melainkan, sesudah permainan Linimasa diuji coba berkali-kali di sekolah dan alhasil menunjukkan bahwa prestasi belajar para siswa meningkat, maka dia bersama ilustrator Alvin Henanda mau melangkah lebih lanjut.

Linimasa bisa dimainkan oleh buah hati-buah hati sekolah dasar yang sudah mendapatkan pelajaran sejarah ialah mulai dari umur 10 tahun, tapi buah hati-buah hati umur 8 tahun juga bisa bermain,” ujar Adhi kepada BBC Indonesia.

Baca Juga : Sejarah Dunia, Tokoh Ini Terbukti Pernah Terisolasi

Baca Juga : Daftar Sejarah Dunia Yang Belum Diketahui Dan Masih Menjadi Misteri Sampai Sekarang

Permainan keluarga

Linimasa menekankan pada diskusi peristiwa-peristiwa sejarah yang tercantum pada tiap-tiap-tiap-tiap kartu.

“Genrenya family game, jadi permainan yang bisa dimainkan buah hati-buah hati dan orang dewasa. Menurut kedua, mereka punya kans yang sama untuk bisa menang di permainan itu.

“Jadi, segmennya lebih ke keluarga, itupun kalau di kelas bisa dimainkan oleh murid dengan murid lainnya, atau murid dengan gurunya, atau guru dengan guru,” sambung dosen di salah satu universitas swasta di Surabaya hal yang demikian.

Laksmi Puspitowardhani -seorang guru sekolah dasar di Surabaya- menerangkan kepada BBC bahwa dia mengerjakan penelitian perihal Linimasa untuk tesis program S2-nya.

“Latar belakang masalahnya ialah ketika saya menemukan fakta-fakta bahwa buah hati-buah hati di sekolah dasar mengalami kesulitan untuk belajar sejarah. Lalu, kebetulan saya bercakap-kapabel dengan sebagian sahabat dan berjumpa Adhicipta, terbukti dia sedang mengoptimalkan kartu Linimasa.”

Menurut Laksmi dari hasil penggalian data di lapangan, ditemukan bahwa kebanyakan guru-guru kurang menggunakan sistem pelajaran yang kreatif untuk pelajaran sejarah.

“Jadi kebanyakan karena materinya amat banyak, guru-guru alhasil mendidik sejarah lebih ke arah konvensional seperti (sistem) ceramah,” jelasnya.

Walhasil itu, berdasarkan Laksmi kendala untuk guru sejarah ialah kurangnya media, meskipun matematika, bahasa Inggris dan pelajaran lain ada banyak medianya. Metode guru-guru sejarah menggunakan media power point, atau video yang didapat dari Youtube.

Laksmi mengatakan di sekolah daerah penelitiannya, ada pembagian dua kelas ialah kelas eksperimen dengan sistem pelajaran melalui sarana Linimasa dan kelas kontrol dengan sistem konvensional atau ceramah.

Hasil riset di dua kelas hal yang demikian lalu dibandingkan dan alhasil ialah korelasi penerapan kartu Linimasa kepada peningkatan prestasi siswa cukup tinggi.

“Di kelas konvensional hanya mempengaruhi peningkatan prestasi murid sebesar 36% meskipun penerapan sistem Linimasa tingkat korelasinya kepada prestasi sebesar 76% dan sisanya sebesar 24% diberi pengaruh oleh hal lain,” terang Laksmi.

Dikala bermain

Board game yang bisa dimainkan antara satu sampai empat orang ini berisikan dua set kartu ialah kartu peristiwa dan kartu tokoh. Kartu peristiwa terdiri dari sisi soal dan jawaban meskipun kartu tokoh hanya terdiri dari satu sisi ialah gambar tokoh dan penjelasan keterkaitan tokoh hal yang demikian dengan kartu peristiwa.

Masing-masing pemain memegang kartu tokoh kemudian kartu peristiwa dibuka satu demi satu, lalu mereka diminta menebak urutan peristiwa serta mencocokkannya dengan tokoh-tokoh yang terkait.

“Sebab permainan sudah selesai, segala kartu sudah tertata maka buah hati bisa memandang rangkaian peristiwa dari kartu permulaan ialah pendaratan Jepang pertama kali di Indonesia sampai kartu peristiwa terakhir ialah agresi militer II sampai KMB, ada 20 kartu peristiwa yang wajib dibentuk,” kata Laksmi.

“Dari situ buah hati-buah hati bisa belajar sejarah, terbukti rangkaian peristiwa sejarah kemerdekaan seperti ini,” sambungnya.

Media belajar dalam format kartu ini juga diinginkan untuk membantu siswa menyukai sejarah

“Kini kalau mereka tidak menyukai sejarah maka mereka tidak mau belajar sejarah, hafalannya banyak wah males wajib dihafalin, semacam itu keluhan murid-murid saya. Dengan media seperti Linimasa harapannya buah hati-buah hati gembira memainkannya dulu tanpa sadar mereka bisa belajar,” kata guru SD di sebuah sekolah Islam di Surabaya hal yang demikian.

Dukungan dari hasil penelitian Laksmi tadi menjadi salah penunjang bagi Adhi kian yakin untuk memberi tahu Linimasa kepada khalayak lazim dan rencananya akan diluncurkan secara berseri.

“Kartu set pertama ini (bertema) kemerdekaan, jadi setting-nya dari tahun 1900 permulaan organisasi kepemudaan terbentuk sampai peristiwa Irian Barat. Selain saya sedang menyiapkan dengan Alvin (ilustrator) untuk seri kerajaan, mulai dari kerajaan Hindu dan Budha sampai Islam, sebelum (terbentuk) organisasi kepemudaan.”

“Walhasil sebagian seri hal yang demikian juga termasuk pop-culture, seperti sejarah musik dan film Indonesia, itulah planning-nya,” tambahnya.

Linimasa direncanakan akan diluncurkan pertama kali untuk masyarakat lazim pada 2 Mei 2017 yang bertepatan dengan Hari Nasional.

You May Also Like

More From Author