Sejarah Kelam Indonesia Pada Saat Kemerdekaan Selain G30S/PKI

76 tahun telah Indonesia merdeka. Selama itu pula, bangsa ini telah lewat berbagai moment bersejarah. Sayangnya, tak seluruh perihal berikut meninggalkan suka. Beberapa di antaranya menjadi kenangan kelam dalam histori Tanah Air dan terutamanya penduduk yang terdampak.

Sebut saja G30S/PKI. Peristiwa yang terhitung dikenal sebagai Gestapu atau Gestok ini merupakan usaha kudeta Presiden Soekarno yang dipimpin oleh Komandan Batalyon I Resimen Tjakrabirawa, Letkol (Inf) Untung.

Persoalannya, moment berikut tidak hanya memicu tujuh anggota TNI https://www.destincrustpizzeria.com/ Angkatan Darat, yakni Letnan Jendral A Ahmad Yani, Mayor Jendral R Soeprapto, Mayor Jendral MT Haryono, Mayor Jendral S Parman, Brigadir Jendral DI Panjaitan, Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre A Tendean kehilangan nyawanya.

Lebih berasal dari itu, ia terhitung berbuntut pada sebuah operasi yang dikenal bersama dengan Operasi Penumpasan G30S/PKI yang dipimpin oleh Panglima Kostrad bersama dengan pemberian beberapa pasukan, layaknya Divisi Siliwangi, Kaveleri, dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo.

Namun demikian, tidak hanya G30S/PKI yang masuk dalam daftar moment kelam yang dulu terjadi di Nusantara. Sejumlah moment berikut pun turut menjadi kenangan jelek bagi bangsa ini.

1. Pemberontakan PKI Madiun

Pemberontakan PKI Madiun terjadi pada 18 September 1948. Gerakan berikut memiliki tujuan membentuk negara Republik Indonesia Soviet dan mengganti dasar negara, yakni Pancasila, bersama dengan komunisme. Adapun alasan yang melatarbelakangi terjadinya moment ini di antaranya, yakni:
– Kedekatan Amir Syarifuddin bersama dengan tokoh PKI, Muso, dan cita-citanya dalam menyebarkan ajaran komunisme di Indonesia.
– Jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin akibat ditandatanganinya perjanjian Renville yang merugikan Indonesia.
– Program Pengembalian 100.000 tentara menjadi rakyat biasa bersama dengan alasan penghematan biaya.

Untuk mengakhiri pemberontakan, Soekarno selagi itu sesudah itu memperlihatkan pengaruhnya bersama dengan menghendaki rakyat memilih Soekarno-Hatta atau Muso-Amir. Di segi lain, Panglima Besar Sudirman terhitung memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur peranan mobilisasi operasi penumpasan bersama dengan dibantu para santri.

2. Kerusuhan Dili November 1991/Insiden Santa Cruz

Dikutip berasal dari Tempo, pada Oktober 1991, sebuah delegasi yang terdiri berasal dari anggota parlemen Portugal dan 12 orang wartawan dijadwalkan bakal mengunjungi Timor Timur. Namun, konsep itu dibatalkan karena pemerintah Indonesia keberatan atas konsep kehadiran wartawan Australia yang menopang gerakan kemerdekaan FRETILIN, Jill Jolliffe, sebagai anggota delegasi itu. Tak pelak, ketetapan itu memicu kekecewaan mahasiswa pro-kemerdekaan yang berupaya mengangkat isu-isu perjuangan di Timor Timur.

Puncaknya pada 28 Oktober, pecahlah konfrontasi pada aktivis pro-integrasi dan group pro-kemerdekaan yang pada selagi itu tengah laksanakan pertemuan di gereja Motael Dili. Afonso Henriques berasal dari group pro-integrasi tewas dalam perkelahian dan seorang aktivis pro-kemerdekaan, sedangkan Sebastião Gomes yang ditembak mati oleh tentara Indonesia.

Lalu, pada 12 November 1991, para demonstran mengadakan aksi protes pada pemerintahan Indonesia atas prosesi penguburan Sebastião Gomes. Namun, selagi memasuki kuburan, pasukan Indonesia justru menjadi menembak. Sebanyak 271 orang dilaporkan tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang.

Pembantaian ini disaksikan oleh dua jurnalis Amerika Serikat, Amy Goodman dan Allan Nairn, dan terekam dalam pita video oleh Max Stahl. Video itu lalu digunakan dalam dokumenter First Tuesday bertajuk In Cold Blood: The Massacre of East Timor.

3. Kerusuhan Mei 1998

Dilansir berasal dari Tempo, kerusuhan Mei 1998 merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia atau HAM secara besar-besaran. Tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998, dan sehari setelahnya, 13 Mei hingga 15 Mei 1998 menyusul peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM lainnya adalah saksi bisu atas moment tersebut.

Koordinator Investigasi dan Pendataan Tim Relawan, Sri Palupi, dulu menganalisis kerusuhan berikut dan mendapat kesimpulan bahwa Kerusuhan Mei 1998 disebabkan oleh sentimen SARA yang telah lama terjadi yang sesudah itu dimanfaatkan untuk memicu kericuhan akibat krisis moneter.

4. Konflik Sampit 2001

Konflik Sampit yang terjadi pada awal 2001 ini terhitung melibatkan unsur SARA. Kegaduhannya diawali di kota Sampit, Kalimantan Tengah, tetapi sesudah itu meluas ke seluruh provinsi, terhitung ibu kota Palangka Raya.

Namun demikian, dalam bukunya, Perang Kota Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokratisasi di Indonesia, Gerry van Klinken mengatakan bahwa konflik berikut tak terlepas berasal dari masalah sosial-ekonomi lokal, layaknya persaingan pada para penambang emas.

“Hutan-hutan Kalimantan Tengah telah lama menjadi lokasi perbatasan yang tak mengenal hukum, dan ketegangan-ketegangan baru-baru itu menopang memastikan supaya kelompok-kelompok pekerja etnis sering kadang bentrok bersama dengan satu mirip lain”

5. Kerusuhan Ambon 2011

Kerusuhan ini diawali oleh bentrokan antarwarga di Kota Ambon, Maluku, pada 11 dan 12 September 2001. Dua group massa diketahui saling melempar batu, memblokir jalan, dan merusak kendaraan di sejumlah titik di Ambon, hingga memicu tujuh orang tewas, lebih berasal dari 65 orang luka-luka, dan ribuan orang mengungsi.

Sementara itu, dikutip berasal dari crisisgroup.org, kerusuhan ini dipicu oleh kematian seorang tukang ojek yang melibatkan unsur SARA. Polisi mengatakan ia meninggal karena kecelakaan, tetapi berdasarkan tipe lukanya dan beberapa aspek lain, keluarga percaya ia dibunuh. Pesan-pesan sms bahwa ia telah disiksa dan dibunuh pun ramai beredar. Lalu, selagi almarhum dimakamkan dan ratusan pelayat meninggalkan pemakaman, kerusuhan pun meletus.

You May Also Like

More From Author