Sejarah Paracetamol, Si Obat Pereda Nyeri dan Demam

Estimated read time 3 min read

Paracetamol adalah tidak benar satu obat populer yang kebanyakan digunakan untuk meredakan sakit kepala ringan dan flu. Paracetamol atau asetaminofen merupakan obat analgesik dan antipiretik yang memadai berbeda dari obat analgesik lainnya, seperti aspirin dan ibuprofen.

Bedanya, paracetamol tidak miliki karakter antiradang. Oleh sebab itu, paracetamol tidak tergolong ke di dalam tipe obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS). Di balik kepopulerannya, paracetamol miliki sejarah yang memadai panjang sebelum banyak dikonsumsi oleh masyarakat terhadap zaman saat ini Berikut ini sejarah paracetamol serta di artikel ini kita akan membahas tentang permainan dari situs daftar slot via dana.

Sejarah awal

Parasetamol berasal dari singkatan nama kimia yang terbagi di dalam dua versi. Versi Amerika disebut bersama N-asetil-para-aminofenol asetominofen, sedang di dalam versi Inggris adalah para-asetil-amino-fenol parasetamol.

Paracetamol merasa dikenal sejak th. 1990-an. Obat ini berasal dari tanaman cinchora atau sinkona yang merupakan bahan utama untuk membuat obat-obat malaria dan asam salisiat. Sejarah paracetamol dimulai terhadap 1877, saat seorang bernama Harmon Northrop Morse mensintesis paracetamol di Universitas John Hopkins melalui reduksi p-nitrofenol bersama timah di dalam asetat glasial.

Dari eksperimen tersebut, bisa diketahui bahwa dulunya paracetamol tidak segera difungsikan untuk pengobatan. Barulah terhadap 1887, seorang pakar farmakologi klinis bernama Joseph von Mering mencoba parasetamol terhadap manusia.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya terhadap 1893, Von Mering menerbitkan sebuah makalah yang berisi laporan hasil klinis parasetamol dan phenacetin. Di di dalam laporan tersebut, Von Mering mengklaim bahwa parasetamol miliki sedikit kecenderungan untuk membuahkan methemoglobinemia dibandingkan bersama phenacetin.

Methemoglobinemia adalah kelainan darah akibat berlebihan methemoglobin. Oleh sebab itu, Von Mering tidak lagi manfaatkan paracetamol dan beralih manfaatkan phenacetin. Klaim von Mering tersebut bertahan dan dipercaya sepanjang 1/2 abad, sebelum tersedia dua tim peneliti dari Amerika Serikat mematahkan pernyataannya perihal paracetamol.

Dua peneliti asal Amerika Serikat ini menganalisis metabolisme asetanilida dan phenacetin. Pada 1947, David Lester dan Leon Greenberg menemukan bukti kuat bahwa paracetamol adalah metabolit utama asetanilida di dalam darah manusia. Lalu, di dalam penelitian selanjutnya, mereka melaporkan bahwa dosis besar paracetamol yang telah diuji cobalah terhadap tikus albino tidak menyebabkan methemoglobinemia.

Lebih lanjut, terhadap 1948, peneliti lain yakni Bernard Brodie, Julius Axelrod, dan Frederick Flinn termasuk ikut meyakinkan bahwa paracetamol adalah metabolit utama asetanilida terhadap manusia dan memutuskan bahwa itu sama manjurnya sebagai analgesik.

Perkembangan

Setelah teruji aman, paracetamol pertama kali dipasarkan di Amerika Serikat th. 1950, bersama nama Triagesic, kombinasi paracetamol, aspirin, dan kafein.

Lalu, terhadap 1952, paracetamol merasa dipasarkan sebagai obat resep dokter. Lambat laun paracetamol tetap mengalami pertumbuhan hingga ke negara lain. Di Inggris Raya, paracetamol merasa dipasarkan sejak th. 1956 oleh Sterling Winthrop Co. sebagai panadol yang hanya tersedia melalui obat resep dokter.

Kemudian terhadap 1963, pasar paracetamol tambah luas, di mana ditambahkan di dalam British Pharmacopoeia. Sejak saat itu, obat paracetamol tambah populer dan pada akhirnya termasuk ikut dijual di Indonesia secara bebas dengan kata lain tanpa mesti resep dokter.

Manfaat

Paracetamol mempunyai kandungan lebih dari satu manfaat, sebagai berikut:

  • Meredakan nyeri ringan hingga sedang, seperti sakit kepala, sakit gigi, dan sakit punggung.
  • Menurunkan demam.
  • Membantu menangani pilek dan flu.

You May Also Like

More From Author